Jantungku berdetak semakin kencang, tangan dan kakiku semakin dingin..
Lagi lagi aku mengutuk diri sendiri, kenapa aku bisa ada disini..
antrian didepan semakin pendek, berarti sebentar lagi giliranku..,
dan hardikan hardikan dari bapak berseragam didepan justru membuat keringat dinginku bertambah deras..
kulirik lagi jurang di sebelah kananku, dinding tegak 90 derajat berhiaskan akar dan ranting2 pohon yg sepertinya berduri tajam.
Bagaimana kalo aq tersangkut, siapa yang akan menolong?
"Kenapa mereka harus memilih tebing seperti ini?" aku memaki dalam hati,
"Apa dihutan ini tidak ada tebing yang mulus tanpa belukar?
Konyol memang, aku tau.. karena toh tak ada yang memaksaku untuk kemari.
Kulirik lagi ke dasar jurang, orang orang yang menunggu dibawah sana tampak begitu kecil,
entah setebal apa nyali mereka hingga bisa sampai kebawah sana..
Antrian didepan bergerak lagi, tinggal 5 orang lagi.
Sepasang sarung tangan tebal disodorkan padaku, dan seorang petugas memeriksa tali yang membelit pinggangku.
Dan aku tersadar, dalam hitungan menit hidupku akan bergantung pada seutas tali, HANYA SATU.
Dan aku akan turun sendirian.
Bapak bapak berseragam yang terhormat ini tidak akan menemaniku.
Ya Allah, bagaimana jika talinya putus?
tiba-tiba tersadar lagi, aq belum sempat sholat zuhur.
Bagaimana kalau aku mati sebelum sholat?
bagaimana kalau.. bagaimana kalau..
kalau.. kalau.. kalau..
"Anda Siap?!!",
hardikan itu terdengar lagi, kali ini untukku
Aku terdiam tak bisa menjawab, hanya bisa memejamkan mata.
Sekarang aku sudah berdiri tepat di bibir tebing.
AKU TAKUT.
"tidak apa2, pasti bisa.." beberapa temanku menyemangati,
tapi kakiku tetap saja tak mau bergerak. Wajahku semakin pias, sepertinya darahku juga berhenti mengalir.
"Kalau anda siap, teriak siap!," bapak berseragam itu menghardik lagi kali ini lebih keras.
Terbayang jalan mendaki yang tadi kulewati untuk sampai disini.
Kalau aku berhenti sekarang, aku harus melewati jalan sulit itu lagi untuk bisa pulang.
kubuka mata, dan kusadari semua mata memandangku, mereka menunggu..
Aku harus mengambil keputusan sekarang.
bismillah, kutarik nafas dalam.
"SIAAAAAAPP..!"
akhirnya kuberanikan diri berteriak. Bapak berseragam itu melepaskan pegangannya pada tali,
membiarkan aku bergantung dan terayun-ayun di bibir tebing.
Perlahan kulonggarkan genggamanku pada tali, dan aku pun berayun turun.
Kuhentakkan kaki pada tebing sebelum tubuhku menabrak dindingnya,
satu, dua.. tiga.., hanya tiga kali hentakan dan kakiku menjejak tanah
Aku terkejut. Hanya tiga detik, TIGA DETIK!! dan aku sudah tiba didasar tebing.
Aaaaaaaarrrrgggghhhhh...
Aku kesal setengah mati,
bayangkan aku panik selama hampir satu jam hanya untuk tiga detik???
WHAT A STUPID IDIOT MIND..!!!!!
Kurebahkan tubuhku diatas rumput, tak perduli pada tali yang harus segera aku lepaskan.
Kutatap orang-orang dipuncak tebing yang bertepuk tangan dan bersorak untukku..
termasuk bapak berseragam yg sangat galak itu,
ternyata kalau senyum bapak itu ganteng juga ya.. hahaha..
besok besok kalau refling lagi, ajak ajak saya ya pak.. :D
...
...
...
Pengalaman pertama ikut reffling dengan para tentara bersama siswa2 dan teman2 soulmate-ku.
14 februari 2008.
Aku bersyukur karena tak menyerah saat itu, karena kalau begitu aku gak akan pernah tau serunya REFFLING.
wkwkwkkkkkk..
Kesulitan hampir selalu tak sesulit yang dibayangkan,
Jadi, tak perlu dibayang bayangkan.
Hadapi saja dan selesaikan. titik.
Gampang kan.. :D